Seputar Pemindahan Ibukota Pasuruan ke Bangil
Wacana pemindahan ibukota Kabupaten Pasuruan kembali menggelinding.
Pada sarasehan di RM Apung, pukul 20.00 WIB, kemarin malam (9/3), para
tokoh asal wilayah Barat Pasuruan mendengungkan agar ibukota kabupaten
dipindah ke Bangil.
Hasil sarasehan lantas dirumuskan untuk
diserahkan pada Pemkab Pasuruan dan Ketua DPRD setempat Irsyad Yusuf.
Karena itu, sarasehan juga menunjuk tiga orang sebagai tim perumus.
Yakni, Sudiono Fauzan, Khoiron Slamet dan Chairil Muhlis. "Segera akan
kami rumuskan. Dan kami tetap akan meminta respons pemkab dan dewan
dengan cepat," tegas Sudiono Fauzan.
Sarasehan sendiri dihadiri
puluhan tokoh dari berbagai kalangan. Misalnya, ulama KH Choiron
Syakur, praktisi pendidikan Abd Rozak dan Khoiron Slamet, mantan
anggota DPRD kabupaten Sudiono Fauzan, pengusaha Khoiron, tokoh sepak
bola Abubakar Assegaaf dan beberapa tokoh lain. Tampak pula dari
beberapa LSM, seperti Imron Rosyadi, Suryono Pane, Chairil Muhlis,
Sobari dan Usman Hidayat.
"Seharusnya sudah ada pikiran cerdas
untuk memindahkan ibukota kabupaten yang saat ini berada di kota pindah
ke wilayah kabupaten," ujar Usman Hidayat, aktivis LSM.
Sarasehan
ini sebenarnya juga mengundang unsur legislatif dan eksekutif. Namun,
mereka berhalangan hadir. Sarasehan kemudian dipimpin Sudiono Fauzan,
mantan ketua FKB DPRD periode lalu. Sudiono lantas menyaring aspirasi
dari semua yang hadir.
KH Choiron Syakur menegaskan,
pemindahan ibukota kabupaten sebaiknya diarahkan ke Bangil. Sebab
selain sisi historis (sejarah), Bangil memang sudah diarahkan untuk
perumahan dan perkantoran. "Sesuai dengan RTRW (rencana tata ruang dan
wilayah), Bangil difungsikan untuk perumahan dan perkantoran. Tinggal
pemkab perlu mengkaji dan merencanakan secara serius apakah memilih
pusat pemerintahan di eks RSUD Bangil atau komplek perkantoran Raci,"
cetus Kiai Choiron.
Pemindahan ibukota kabupaten lanjut
Kiai Choiron, memang tidak bisa sekaligus. Tapi paling tidak ada
kesungguhan dari pemkab untuk memprioritaskan cikal bakal pemindahan
pusat kota. "Tentu saja ada alokasi anggaran. Mungkin tidak bisa sekali
APBD. Tetapi tiga sampai empat kali APBD. RTRW dan percepatan
pemindahan Ibukota Ini harus kita kawal terus," tegas kiai yang dikenal
vokal ini.
Sarasehan juga sempat membahas peninjauan
beberapa perda. Ini penting, agar para tokoh punya kepedulian untuk
mengawal produk-produk peraturan daerah yang sudah dibuat.
Pembahasan
dalam sarasehan sempat sedikit melebar. Terutama ketika membahas fungsi
Alun-alun Bangil yang kurang tertata. Abubakar Assegaaf menyoroti
gelapnya Alun-alun saat malam hari. "Ini menyebabkan munculnya perilaku
asusila dan transaksi narkoba. Saya pernah menjumpai ada kondom yang
tertinggal. Masya Allah. Masak begini kota santri," tegas Abubakar meledak-ledak.
Pengawasan alun-alun lanjut Bakar, tidak bisa dibebankan pada tiga orang Satpol PP. "Kalau hanya tiga orang, ya jelas susah. Masak harus menerjunkan Pai sama Mustofa (dua orang yang biasa berjaga di
pasar dan Polres Pasuruan, Red)," cletuk Bakar sambil disambut gelak
tawa. Karena materi sedikit melebar, Imron Rosyadi meluruskan kembali. (jawapos.com)






