Rubrik : Seputar Pandaan
Lima Pelajar SMAN 1 Pandaan Masuk 10 Besar Unas Tertinggi se-Jatim
2009-06-16 10:40:25 - by : admin

Bangga, tapi Sedih karena Tak Bisa Kuliah

Lima pelajar SMAN 1 Pandaan mengharumkan Kabupaten Pasuruan.
Nilai unasnya untuk jurusan IPS masuk 10 besar tertinggi se-Jatim.
Salah satunya adalah Dewi Maulidiyah yang berada di urutan puncak. Dia
anak seorang sub agen Jawa Pos.

FANDI ARMANTO, Pasuruan

---

SEBUAH gang di Jl Sidomukti Kelurahan Pandaan
pagi kemarin nampak lengang. Suasana itu kontras dengan keramaian di
ruang tamu rumah keluarga Ali Wiryo, ayah Dewi Maulidiyah.

Ketika Radar Bromo datang, di ruang tamu rumah bercat putih itu sedang berkumpul Dewi
Maulidiyah dan keluarganya. Ada juga Putri Utami, teman sekelas dan
sebangku Dewi di sekolah.

Dengan wajah semringah Dewi mengaku sempat menduga bahwa tamu yang datang adalah salah satu gurunya di sekolah. "Eh nggak tahunya, mas wartawan," kata gadis berambut sebahu itu.

Sambil
terus menebarkan senyum Dewi bercerita bahwa ia tahu kabar hasil ujian
nasionalnya tertinggi se Jatim dari berita di koran. Kebetulan, Ali
Wiryo sang ayah menjadi sub agen koran sekaligus loper Jawa Pos.

"Saya tahu tadi pagi saat membantu bapak ngoplos koran di rumah. Waktu melihat halaman depan Radar Bromo, saya
lihat nama saya tercantum sebagai peraih nilai unas tertinggi se Jatim
untuk jurusan IPS. Wah, senang sekali. Tapi saya tidak mengira bakal
mencapai angka 54,75 dan menjadi paling tinggi," katanya.

Semenjak
itu HP-nya kebanjiran SMS dari kawan-kawan sekelasnya. Isinya apalagi
kalau bukan ucapan selamat. Persis ketika jarum jam menunjukkan pukul
09.00, teman sebangkunya Putri Utami, datang ke rumahnya.

"Saya
kaget Dewi dapat nilai tertinggi. Senangnya lagi, di sekolahan kami ada
lima orang yang berhasil masuk sepuluh besar. Tiga di antaranya dari
kelas kami, kelas IPS I," ungkapnya.

SMAN 1 Pandaan tahun
ini bisa dibilang sukses besar melaksanakan unas. Pasalnya selain Dewi,
ada empat siswa IPS lainnya yang berhasil meraih sepuluh besar. Mereka
adalah Zakky Imawan, Chusnia Rachman, Devi Yuliani, dan Haries Bagus
Triejaini. Chusnia Rachman dan Devi Yuliani adalah teman satu kelas
Dewi Maulidiyah di kelas 3 IPS I.

Tentang keberhasilannya
Dewi mengaku terkejut. Sebab, dia merasa sebenarnya Chusnia Rachman
jauh lebih pintar ketimbang dirinya. "Chusnia itu juara di kelas saya.
Dia selalu ranking satu dan jadi bintang kelas. Tapi Alhamdulillah
Chusnia berhasil meraih nilai tertinggi juga," katanya sambil memegang
dada. Di kelas 3 IPS I sendiri, Dewi tidak pernah meraih bintang kelas.


"Tapi Dewi selalu masuk lima besar. Ranking terakhir yang pernah diraihnya adalah rangking empat," ungkap Maryani sang ibu.

Di
balik kesuksesan Dewi, Maryani adalah salah satu aktor yang berperanan
penting. Perempuan 43 tahun itu mengaku tak pernah lelah memberi
support kepada putrinya ketiganya itu. Dia mengaku, ketika unas
berlangsung, tak henti-hentinya mendoakan Dewi.

Dalam unas
kemarin Dewi mengaku soal bahasa Inggris lah yang paling sulit baginya.
"Soalnya memang susah-susah kok Mas. Untungnya kami digembleng oleh Bu
Erni Puji, guru bahasa Inggris yang juga wali kelas kami," ungkap Dewi.

Menjelang unas, kata Dewi, seluruh kelas 3 IPS I pun sering mendapat gojlokan dari kelas lainnya. Itu karena dari beberapa kali try out, kelas yang dihuni Dewi nilainya sering jeblok.

"Dari lima kali try out, kelas kami hanya dua kali lulus. Tiga try out di antaranya kelas kami gagal," imbuh Putri.

Bahkan dalam try out yang pertama, nama Dewi tercatat sebagai siswi yang tidak lulus. Namun
demikian Dewi tidak patah semangat. "Saya terus ngebut belajar. Bapak
sama ibu berkali-kali memarahi saya supaya sering belajar. Bahkan
ketika unas berlangsung, bapak melarang saya keluar rumah," kata Dewi
sambil melirik ayahnya.

Mendapat lirikan ayahnya pun berkomentar. "Ya mau tidak mau harus belajar. Kami ini kan orang susah. Kalau Dewi tidak lulus mau jadi apa ?" katanya sambil mengepulkan asap rokok filternya.

Ali
Murryo mengaku ketika Dewi menghadapi unas, ia juga menyuruh putri
ketiganya itu untuk selalu berdoa dan salat malam. Selain itu, ia juga
meliburkan Dewi dari kewajiban membantunya mengoplos koran. "Saya tidak
ingin Dewi terlambat ujian gara-gara mengoplos koran," katanya

Dengan
prestasi moncer seperti sekaran ini, ke mana Dewi ingin melanjutkan
sekolah? "Mungkin langsung kerja. Soalnya saya ini cuma penjual dan
loper koran yang hanya punya kios di depan BRI. Tahu sendiri kan jual koran itu berapa sih keuntungannya? Ya mungkin Dewi hanya sampai
bangku SMA saja" jawab Ali Wiryo. Dewi pun hanya angguk-angguk.

Sebagai
anak loper koran Dewi menyadari betul ekonomi keluarganya. Karena
itulah sejak kelas VI SD, Dewi rela membantu ayahnya mengoplos koran Jawa Pos, sebelum diantarkan ke pelanggan atau dijual di kiosnya.

"Saya
saja di sekolah dapat bantuan BKSM (Bantuan Khusus Siswa Miskin) sejak
kelas dua SMA. Sedangkan saat kelas I saya dibebaskan dari uang
sekolah," katanya.

Meski hanya sebagai loper koran, Ali
Wiryo mengaku selalu bisa memberi uang saku dan membelikan peralatan
sekolah anak-anaknya. Dewi sendiri mengaku uang sakunya Rp 7 ribu per
hari. "Yang Rp 5.000 untuk bayar ojek. Yang Rp 2.000 untuk jajan,"
katanya.

Nggak kurang ? "Bisa sekolah saja sudah
untung. Pokoknya saya senang Bapak dan ibu bisa menyekolahkan saya
hingga saya bisa meraih prestasi sekarang. Kalau nanti ada rezeki,
pasti saya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi untuk saat
ini, bekerja dulu lah," kata Dewi yang berharap mendapat beasiswa ini.

Dewi
pun berniat tak merayakan keberhasilannya dengan cara yang aneh-aneh.
Misalnya dengan merayakan kelulusan dengan corat-coret baju. "Saya
tidak suka. Selain itu juga dilarang sekolah. Siapa yang ketahuan
coret-coret baju akan dipersulit saat mengurus legalisir ijazah. Hal
yang membuat saya senang adalah sekolah akan memberi hadiah bagi peraih
nilai tertinggi di setiap kelas," ujarnya dengan muka berseri-seri. (jawapos)

: http://www.pasuruan.info
Versi Online : http://www.pasuruan.info/article/628/lima-pelajar-sman-1-pandaan-masuk-10-besar-unas-tertinggi-se-jatim.html